<>

Penyebab Anak Bandel

Kita semua paham bahwa mendidik anak membutuhkan kesabaran, proses yang panjang serta keteladanan. Nah... yang terakhir tentu saja yang paling sulit. Tidak sedikit orang tua yang bawel terhadap anaknya agar rajin mengaji, padahal dia sendiri jarang membaca Alqur’an. Akibatnya nasehat dan ajakan orang tua akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Kali ini kita akan membahas beberapa kebiasaan orang tua yang berdampak buruk bagi anak. Anak menjadi sulit di atur, sulit dikendalikan, bandel dan tidak jarang suka mela
wan orang tuanya. Apa sajakah kebiasaan itu? Kali ini saya akan membahas 5 sikap orang tua lebih dulu.

  • Orang tua tidak kompak. Adakalanya anak kita sedang asyik nonton televisi hingga ia lupa belajar. Ibunya lantas mengingatkan agar putranya berhenti nonton TV dan bergegas belajar. Si anak tetap saja nonton dan tidak mendengarkan perintah ibunya, lalu si ibu memperingatkan dengan nada keras. Anak jadinya nangis... dan si ayah lantas membela anak ya biar to buuu nonton TV kalau belajar terus ntar lama-lama stres dia... Dalam kasus ini anak punya persepsi bahwa ayah ada dipihaknya, sehingga menganggap ibunya bawel, cerewet dan jahat. Perlahan-lahan anak akan selalu melawan terhadap ibunya karena ada yang melindungi. Demikian pula sebaliknya. Apa yang seharusnya dilakukan orang tua? Orang tua harus sepakat mengenai pola pendidikan anaknya. Mereka harus kompak dalam mendidik putra-putrinya. Di depan anak jangan tunjukkan perbedaan pendapat untuk persoalan anak. Jika ada perbedaan pendapat bicarakan pada waktu yang tepat dan jangan sampai ketahuan anak kita.
  • Campur tangan orang lain. Saat orang tua sudah kompak dalam mendidik putra-putrinya, seringkali muncul kehadiran pihak lain misalnya kakek, nenek dan tante. Jika pihak ketiga ini memberikan perlindungan saat kita memberi peringatan kepada anak, maka anak kita dapat saja berlindung kepada mereka dan menganggap orang tuanya jahat. Bagaimana seharusnya? Pastikan orang lain yang hadir dalam keluarga kita memiliki kesamaan visi dalam mendidik anak. Jangan tunjukkan perbedaan pendapat di depan anak. Berikan pengertian kepada mereka mengenai pola pendidikan yang kita inginkan.
  • Menakut-nakuti anak. Kebiasaan ini sering dilakukan orang tua saat anak kita menangis dengan tujuan agar si anak menghentikan tangisannya. Perhatikan kaimat berikut” awas kalau gak berhenti nangisnya nanti ayah bawa ke rumah bu bidan biar di suntik” Kebiasaan ini menyebabkan akan tertanam kebencian pada pihak yang tidak bersalah. Anak menjadi benci dengan bidan dan menganggapnya musuh. Apa yang seharusnya dilakukan? Berkatalah jujur, berikan pengertian kepada anak, yakinlah bahwa anak juga mampu berfikir layaknya orang dewasa.
  • Orang tua sering melanggar janji. Orang tua sering memberikan pujian, penghargaan atau hadiah kepada anak ketika anak mau melakukan sesuatu yang diinginkan orang tua, atau memberikan hukuman jika perilaku anak menyimpang dari aturan. Salah satu penghargaan yang diberikan orang tuanya misalnya” kalau adik tidak ngompol lagi, nanti mama ajak jalan-jalan ke mall. Nah... setelah anak berusaha tidak ngompol, ternyata orang tua lupa dengan janjinya,... waspadalah. Anak kita bisa menganggap orang tua adalah pembohong, sehingga apapun ucapan kita mereka tidak akan mempercayainya. Tepati janji jika mereka telah melalakukan apa yang kita inginkan. Demikian pula sebaliknya terapkan hukuman sesuai yang pernah diucapkan jika memang mereka melanggar aturan. Sekali lagi jadilah orang tua yang konsisten. 
  • Orang tua tak kuasa menghadapi rengekan anak. Ketika di tempat umum Sering kali anak kita meminta permen atau makanan. Kita lalu mengingatkan kalau makan permen nanti giginya sakit, gak boleh makan permen ya... anak lalu merengek. Kita sudah bertahan untuk tetap tidak membelikannya. Dengan akal liciknya si anak makin keras tangisannya dan tidak jarang bertingkah yang membuat kita malu di depan banyak orang. Akhirnya kita menyerah... dan menuruti apa maunya anak. Ini berarti perilaku buruk anak kita beri penghargaan dengan menuruti keinginannya. Dampaknya anak akan selalu berperilaku buruk agar orang tuanya malu sehingga semua keinginannya dapat dituruti. Apa yang seharusnya dilakukan? Tetaplah konsisten untuk tidak memberinya permen atau makanan yang berdampak buruk baginya. Biarkan dia menangis. Kita tidak perlu malu di hadapan orang banyak. Ingatlah bahwa kita sedang mendidik anak. Konsistensi wajib hukumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar